Klik disini klik disini klik disini klik disini klik disini





Kategori Artikel
Filsafat Sukses
The Attractor Factor
Keterampilan Hidup
Kiat Sukses Bisnis
Kiat Sukses Belajar
Kiat Sukses Mengajar
Kiat Sukses Bercinta
Spiritualitas Kerja
Psikologi Terapan


klik disini



Refleksi Bening Lintas Agama

Tips MENGECILKAN Tuhan
( Berani ??? )

(Mona Sugianto)

Mau mencoba ‘mengecilkan’ ke-MAHA-an Tuhan? Silakan coba tips berikut ini:

  • Menyebut nama Tuhan hanya pada saat kita butuh doank...(kalau perlu pakai daftar list permintaan). Tuhan yang Maha Pengatur, Maha Besar, turun pangkat jadi pemuas kebutuhan
  • Pergi beribadah atau menjalankan sembahyang dengan terpaksa atau karena kewajiban semata atau karena kejar setoran atau supaya dikira baik
  • Secara saklek (semena-mena) dan sangat berkuasa terlalu mengatur hidup, terlalu serius dalam menjalani hidup, terlalu detil dalam mengatur rencana. Sampai-sampai tidak ada tempat bagi Tuhan untuk menempatkan keajaibanNya
  • Beranggapan bahwa hidup itu ’blank’ dan kita masing-masing tidak punya panggilan hidup khusus. Memangnya Tuhan iseng menciptakan kita?
  • Dengan alasan ’membela’ Tuhan, kita memusuhi, berperang, dan membunuh orang lain. Selemah itukah Tuhan sehingga perlu dibela-bela segala?
  • Berdoa terlalau keras-keras dan diulang-ulang gak jelas. Memangnya Tuhan tidak mendengar & menyimak?
  • Saat menderita kita berkata ”ini takdir, ini kehendak Tuhan”. Padahal hanya untuk menghindari kenyataan bahwa kita bertanggung jawab atas kehidupan yang kita pilih sendiri. Memangnya Tuhan senang melihat kita menderita?
  • Memaksa diri bepergian berziarah ke sana-sini dengan alasan mencari Tuhan, sampai-sampai mengabaikan orang-orang di sekitar yang membutuhkan cinta kita. Apakah Tuhan bersembunyi sehingga perlu dipaksa cari sana-sini?
  • Meminta dana bantuan pembangunan rumah ibadah lalu dibawa kabur. Menjual nama Tuhan untuk kepentingan kantong sendiri.
  • Mengkorupsi bantuan untuk orang miskin & menderita dengan merasionalisasi bahwa toh kita juga susah. Memangnya Tuhan Cuma peduli Anda saja ? Orang miskin itu kekasih Tuhan.
  • Mengakui dosa-dosa dengan harapan toh kalau nanti dosa lagi pasti diampuni lagi. Apakah Tuhan gampang dibohongi?
  • Pesimis dan mengeluh pagi-siang-sore, sehari tiga kali seperti minum obat. Memangnya Tuhan tidak ada lagi sehingga Anda merasa bahwa sudah tidak ada harapan lagi?
  • Menyamakan agama dengan Tuhan. Memangnya Tuhan agamanya apa? (Hayo...siapa yang tau?)
  • Memberi makan anak-istri dengan uang tidak halal. Memangnya keluarga kita bukan titipan Tuhan ?
  • Mengutuk, menyumpahi orang lain karena melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Memangnya kita asisten Tuhan ? Kapan dilantiknya?
  • Menghina orang lain, orang cacat, orang jelek, orang jahat, orang miskin. Memangnya yang menciptakan mereka bukan Tuhan juga? Jangan menghina hasil karyaNya.
  • Barkata ’tidak mungkin’. Memangnya ada kewenangan apa kita menyatakan apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin bagi Tuhan?
  • Membiarkan diri kita menjadi pecandu obat terlarang, wanita, laki-laki, judi, sex, kekuasaan, harta. Tuhan yang begitu Maha Kuasa, bisakah digantikan dengan benda, hal-hal duniawi dan kesenangan sesaat?
  • Berebut kedudukan. Tidakkah kita sadari bahwa pemimpin sejati direstui & diurapi oleh Tuhan? Kalau kita tidak dipilih mengapa harus memaksa?
  • Setengah hati dalam merawat & mendidik anak. Sudah dipercaya oleh yang empunya kehidupan malahan tidak niat. Apakah tidak keterlaluan?
  • Merusak alam. Siapa yang menciptakan, mengapa kita merusaknya?
  • Pergi ke dukun & tukang ramal. Siapa yang menciptakan awal & akhir? Siapa yang paling paham misteri kehidupan?
  • Sibuk menghakimi dan menghitung dosa orang lain. Memangnya kita tidak punya dosa? Bukankah Tuhan maha pengampun?
  • Tidak mencintai diri sendiri (minder, malas mengembangkan diri). Memangnya bukan Tuhan yang menciptakan kita?
  • Bunuh diri. Lancang sekali membunuh & mengakhiri sesuatu yang tidak bisa kita buat & ciptakan kembali. Kita berasal dari Tuhan...
  • Mengajarkan kesesatan & menjadi nabi palsu.

Pada umumnya kita tertawa dalam kesukaan dan menangis dalam kesesakan. Bisakah dalam refleksi bening ke dalam diri kita tertawa gembira dalam kesukaran dan menangis syukur dalam kebahagiaan ? Terus berupaya menjadi SADAR bahwa pikiran & perilaku kita sengaja atau tidak sering ‘mengecilkan’ Tuhan.

Salam bening,
Orang berdosa

Copyright@2008 - Enlighten Human Development Center
All Rights Reserve