|
" Lakukan Sekali Saja dan …..!”
Saya mau mengajak Anda kepada sebuah kebenaran
sederhana tentang bagaimana menghayati kehidupan ini secara
penuh, yakni melakukan hal-hal baru yang layak dilakukan -
paling tidak sekali. Saran ini sebenarnya saran yang usang
seumur manusia pertama diciptakan, akan tetapi tetap saja
manjur bagi orag-orang yang merindukan perkembangan kepribadian
yang lebih lengkap. Saya menemukan dan membuktikan bahwa kegiatan
melakukan hal baru walau hanya sekali pada tahap tertentu
sangat membantu untuk meredakan stress dan menggantikannya
dengan kesegaran baru yang dinamis. Di samping itu kegiatan
ini mengasah kreativitas, membuka wawasan dan pemahahan kehidupan,
memberikan peluang terhadap hadirnya kesempatan-kesempatan
baru.
Apa
yang bisa dilakukan walau hanya sekali bagi hidup Anda? Banyak
hal tentunya. Saya adalah seorang yang ditakdirkan suka melakukan
hal-hal baru. Ketika remaja saya tinggal di kota Yogya yang
selalu dipenuhi turis bule. Suatu hari di sebuah perjalanan
menuju ke Kaliurang nan sejuk, tanpa malu-malu saya menegur
seorang turis dengan bahasa Inggris logat Jawa yang paling
saya kuasai yakni: ”Hello, Mister”. Anda tahu?
Cuma ungkapan itu yang saya kuasai – lain tidak. Eh,
si bule rambut pirang bercelana pendek itu tersenyum dan membalas
dengan kalimat yang tentu saja saya tak mengerti (karena memang
saya tak mengerti bahasa asing sama sekali). Si bule tersesenyum
melihat saya salah tingkah kebingungan serba bloon. Saya yakin
ia memahami bahwa saya asplak saja alias asal njeplak. Namun
sejak saat itu saya merasa ada kenyamanan baru, yakni mampu
menyapa dan membuat orang asing yang selama ini dianggap superior
atas orang pribumi bereaksi atas perbuatanku. Spontan tanpa
pikir panjang di hari berikutnya saya membeli kamus kecil
rombengan di pasar rakyat seharga Rp. 350,- Namun dari peristiwa
kecil itu sekarang ini saya mampu berbahasa Inggris dengan
baik. Saya pernah mengajar bahasa ini kepada para murid SMA,
kepada mahasiswa yang akan keluar Amerika atau Eropa, dan
saya berkali menjadi penterjemah bila ada tamu asing ke Indonesia.
Dan bukan hal aneh bila hasil TOEFL nyaris mencapai 600. Lebih
dari itu, saya juga mampu berbahasa Jerman, bahasa Perancis.
Semua terjadi karena saya berani melakukan sapaan pada seorang
bule pria yang tak kukenal dalam waktu tak lebih setengah
menit, namun berdampak seumur hidup. Dengan kemampuan linguistik
ini saya merasa percaya diri, merasa bahagia, merasa berharga,
merasa dikagumi, dan merasa bermanfaat bagi sesama, dan tentu
saja bisa mengakses ilmu pengetahuan dengan lebih cepat.
Kesenangan saya pada bahasa juga tertuang pada kegemaran membuat
tulisan (seperti yang sedang Anda baca). Melakukan sesuatu
hal baru hanya sekali sangat menolong pada proses kratif penyusunan
tulisan. Saya pernah ditertawakan kawan main saya ketika saya
nongkrong di terminal Giwangan Jogja melihat bus lalu lalang.
Di terminal itu saya menyempatkan diri bercakap-cakap dengan
seorang penumpang bus dari Jawa Tengah yang kesasar ketika
hendak pergi ke Jambi. Kawan main saya berujar: ”Hmmm
seorang lulusan magister yang kurang kerjaan. Bukannya mengajar
di kampus, tetapi malahan nongkrong di terminal” Namun
kawan ini segera menghentikan cibirannya ketika saya menyelesaikan
sebuah tulisan manajemen diri tentang kekuatan perencanaan.
(Supaya diketahui bahwa penumpang yang kesasar tadi berada
dalam keadaan emosional ketika hendak berangkat dan melupakan
perencanaan matang). Dalam hal ini nongkrong di terminal –
sebuah kegiatan yang sebelumnya tak pernah saya lakukan –
memberikan inspirasi dan sukacita.
Pada tahun 2001 kawan saya Mas JT yang lulusan SMA hanya iseng-iseng
melihat pameran pendidikan yang diselenggarakan oleh oleh
kedutaan Inggris di Indonesia, tak punya maksud apa pun. Di
tempat pameran ia iseng-iseng mendaftarkan diri dalam sebuah
program beasiswa yang tak diketahuinya kalau saja ia tidak
berkunjung ke pameran itu. Namun, saat ini Mas JT dengan bantuan
beasiswa yang akhirnya behasil didapatnya tersebut –
sedang bersiap-siap mendapatkan gelar doktornya dari Gas and
Oil Engineering Department sebuah universitas terkemuka di
Inggris. Apa jadinya bila Mas JT tidak iseng-iseng menghadiri
pameran pendidikan itu? Mungkin saja ia juga menjadi PhD,
tetapi mungkin juga sekedar menjadi wartawan koran sederhana
di daerah.
Oke, saya setuju dengan Anda.
Tentu saja tidak setiap aksi menghasilkan sesuatu yang spektakuler.
Bahkan mungkin juga mengundang hal yang kurang menyenangkan.
Namun, bila Anda seorang pembelajar kehidupan yang baik (seharusnya
demikian), maka Anda bisa memetik manfaat besar daripadanya.
Karena mencoba bermain sulap untuk pertamakalinya di panggung,
Mas Prapto pernah diledek habis-habisan oleh penonton dan
merasakan sakit hati yang luar biasa. Tetapi pengalaman itu
membawanya menjadi seorang pembicara publik yang memiliki
kualitas kepercayaan diri yang baik di kemudian hari.
Bagaimana dengan Anda? Anda
kaum pria bisa menambah kegembiraan hidup Anda dengan belajar
ballet, belajar memasak, belajar sanggul, membuat kue, menyulam.
Anda para wanita bisa semakin gembira bila mau mengganti ban
mobil yang kempes sendiri alih-alih menunggu suami selesai
memotong rumput, atau menambal lantai yang retak, atau ikut
kursus pembuatan bata.
Tentu
saja saya tidak menyarankan Anda untuk mencuri dompet seorang
nenek di pasar swalayan yang sedang lengah atau atau mencolek
seorang pramugari ketika melintasi di dekat Anda duduk di
pesawat, namun yang dilakukan adalah hal-hal yang membangun
diri Anda dan orang lain (Kecuali Anda sedang benar-benar
bermaian peran untuk sebuah tayangan hiburan televisi swasta).
Anda yang terlalu terbenam
dalam tumpukan kertas pekerjaan, bisa melakukan kunjungan
ke panti asuhan terdekat. Sekali saja! Anda yang selalu di
Jakarta, sesekali kunjungilah Berastagi atau Jayawijaya. Anda
yang selalu menyaksikan film asing, sesekali lihatlah pagelaran
wayang orang Solo. Anda yang selalu berkata ya, cobalah sesekali
berkata tidak. Anda yang selalu makan sayur lodheh, cobalah
sesekali makan lawar Bali.
Hmmmm..... penuh isnpirasi,
kesempatan, kreasi. Mengapa tidak dicoba dari sekarang?? Melakukan
sesuatu – paling tidak sekali saja! Ya, cukup sekali
saja!
(Octavian Elang Diawan)
|