h1
 

 

Pengemis yang Inspirasional
Octavian Elang Diawan

 

Aku terbiasa melewati jalan utama di kota Bandar Lampung. Di dekat deretan pertokoan ada seorang pengemis pria yang memelas. Ia duduk di pinggir jalan dengan muka kucal dan baju compang-camping mengundang rasa kasihan orang yang lalu lalang. Ia bergerak dengan sangat kesusahan karena kakinya buntung. Sebagai pengemis ia biasa makan di tepi jalan di mana ia biasa ngantor - tentu dengan banyak lauk CO2 dan CO atau bahkan debu timbal. Tetapi yang pasti tak banyak orang tahu bahwa sang pengemis itu adalah seorang yang sama pandainya dengan Hendik. Anda tahu, Hendik adalah seorang mahasiswa jurusan seni drama di sebuah institut seni terkenal di Jawa.

Semula aku kasihan sekali melihat pengemis itu dengan segala kemiskinan dan kekurangannya. Sampai suatu saat aku memergokinya di senja hari yang cerah. Kurang lebih pukul 17.30 langit mulai berubah warna dan berkurang cahaya. Pengemis malang itu menggengam erat kantong yang berisi uang hasil perjuangannya sepanjang hari itu. Ia lalu beringsut meninggalkan tempat duduknya menjauhi jalan raya lalu berteduh di bawah atap toko yang baru saja ditutup. Sejurus kemudian ia mengeluarkan kotak kecil warna gelap dari kantongnya dan memencet di beberapa bagiannya... Lalu terdengar suaranya pelan: "Hallo, hallo. Jemput gua. Udah malam nich..."

Gleggggkkkk!!! Aku terperanjat dan nyaris menghentikan langkah menyaksikan hal yang luar biasa itu. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa seorang pengemis yang sedemikain tidak berdaya ternyata menggunakan perangkat teknologi mutahkir yang juga dipakai oleh presiden perusahaan. Rasa kasihanku tiba-tiba tak dapat kupegangi lagi, menguap secepat keringatku yang ditiup angin kota tepi pantai itu. Namun rasa dongkol mendadak menggantikan ruang kosong di hatiku. Nah... Benar-benar seorang pengemis yang inspirasional - setidaknya dalam arti negatif.

Kawan, Anda semakin mengerti sekarang bagaimana potret bangsa Indonesia. Budaya tipu menipu dan main kayu bukan lagi monopoli kaum berdasi, tetapi juga merambah di kalangan masyarakat marjinal. Aku sangat sedih melihat bangsa ini secara cepat dan pasti menuju pada tingkat peradaban yang makin terbelakakang. Dan betapa sulitnya menguraikan benang kusut ini.

Bagaimana memulai sebuah penyel;esaian yang berdampak? Anda tak perlu susah-susah belajar teori Blool atau psikoanalisa Freud. Cukup buatlah komitmen pribadi untuk menjadi pribadi mandiri. Kemudian buatlah orang-orang di sekitar Anda juga mandiri. Istilah guru sejarahku waktu SMA adalah berdikari. Presiden Soekarno membuat istilah ini sebagai kependekan dari ungkapan berdiri di atas kaki sendiri. Kesanggupan untuk berdikari menjadi dasar pertama sebuah pribadi untuk berkembang. Tetapi sayang masyarakat Indonesia telah menjadi masyarakat yang bergantung pada bangsa-bangsa lain, bahkan pada beberapa sektor yang dahulu kita menjadikannya sebagai sebuah keunggulan (padi, minyak bumi, tenaga pendidik, kesehatan, seni budaya, kerajinan, dll).

Kemandirian pribadi Anda akan melahirkan keuanggulan. Kemandirian sebagian besar masyarakat akan menghasilkan keunggulan bangsa. Kapan Anda akan menghayati kemandirian? Waktu tebaik adalah saat ini, entah Anda siap atau tidak siap.

*****

*) Penulis adalah senior trainer Enlighten HDC

 

artpics71
Copyright (c) 2010. Enlighten Human Development Center. All Rights Reserved.