LDKS SMA Pa Hoa Gading Serpong

 

Pa Hoa adalah sebuah lembaga pendidikan Konfusian. Kali ini SMA Pa Hoa yang terletak di Jl. Ki Hajar Dewantara Gading Serpong Tangerang ini menerjunkan 30 peserta didiknya menuju Cisaat Sukabumi. Siapa mereka? Apa tujuan mereka? Ya, mereka adalah 30 orang calon pengurus OSIS SMA Pa Hoa tahun pelajaran 2008/2010 yang akan mengikuti pelatihan dasar kepemimpinan. Peserta yang semuanya adalah kelas X meninggalkan lokasi sekolah pagi-pagi dengan diangkut mobil tronton nan perkasa milik TNI Angkatan Laut Republik Indonesia. Dengan didampingi 3 guru, peserta meluncur membelah Jakarta hingga ke lokasi dingin segar di lereng Gunung Gede – Pangrango, tepatnya di Situ Gunung, Sukabumi.

Dengan menyewa villa bernuansa bambu peserta tiba di lokasi pukul. 11.30 dengan disambut oleh tim pelatih Enlighten Human Development Center Jakarta. Setelah beristirahat sejenak peserta segera mengikuti sesi demi sesi secara spartan hingga pukul 22.30. Hari pertama mereka mendapatkan pembekalan tentang Prinsip Dasar Bamboo Leadership. Tema Bamboo Ledership terasa cocok dengan segala situasi. Betapa tidak? Peserta semuanya adalah etnik tiong hoa, suasana tempat raining dilingkupi oleh hutan bambu, bahkan dinding dan atap villa juga terbuat dari bambu.

Bamboo Ledership training menekankan keteladanan pada kualitas-kualitas bambu China, yakni: kokoh, lentur, menjulang tinggi, memiliki sistem akar yang kompak, hidup secara bersama-sama, sabar, mandiri, dan memberi manfaat pada makhluk lain di sekitarnya. Para peserta dibawa untuk mengenali kualitas-kualitas diri mereka dan diarahkan menuju kualitas ideal pohon bambu China. Kegiatan ini dikemas dengan aneka permainan kepemimpinan yang berlangsung indoor maupun outdoor. Para malam harinya dilaksanakan workshop penyusunan proposal. Para peserta secara berkelompok berlatih menyusun proposal kegiatan sesuai dengan kebutuhan sekolah.

Hari pertama training diakhiri di tengah sepi heningnya suasana dengan acara meditasi kepemimpinan. Di tengah temaram cahaya lilin dan dingin udara pada sesi ini peserta diajak untuk mendengarkan suara-suara kalbu di mana harapan kepemimpinan Tuhan berkumandang kepada mereka, yakni kepemimpinan yang mengedepankan nilai-nlai moral dan kehidupan.

Hari kedua peserta memulai kegiatan pagi dengan worksop penyusunan proposal pribadi dan penyusunan program kerja. Kegiatan dilanjutkan dengan materi teamworking di mana dilaksanakan kegiatan outdoor. Di lapangan berumput teduh peserta secara berkelompok berkompetisi dalam permainan bola emas, lempar gelang, rekayasa kostum perang, dan perang-perangan. Setiap permainan menguji keterampilan kepemimpinan peserta, baik cara berkomnikasi, penetapan tujuan, mengatur strategi pencapaian tujuan, pengaturan sumber daya, dan lain-lain. Pada acara perang-perangan, para guru pendamping tidak tanggung-tangung ikut terjun ke lapangan untuk turut berperang. Sebuah kebersamaan guru dan murid yang mengesankan. Acara berakhir hingga saat makan siang, namun ini bukanlah akhir dari keseluruhan acara.

Begitu makan seiang selesai seluruh peserta dengan pakaian olah raga dan bekal air minum secukupnya mulai beriringan menjelajah alam Situ Gunung yang cuku ganas (bagi mereka). Perjalanan menyusuri jalan setapak membelah hutan Situ Gunung menjadi pengalaman pertama bagi kebanyakan peserta. Turunan terjal disusul tanjakan yang tak kalah terjal, berkelok ke kanan ke kiri melewati jalan berbatuan keras. Beruntunglah hari itu tidak ada hujan sehingga jalan tidak licin. Namun terpaksa peserta harus beristirahat berulangkali untuk mempertahankan tenaga. Tetapi semangat juang akhirnya membawa seluruh peserta sampai di air terjun super dingin dan indah. Dan di tempat inilah dilaksanakan seremoni penutupan singkat.

Acara penutupan dilaksanakan diantaranya dengan evaluasi umum, penyematan pin ledership kepada peserta aktif: Ellen, Andrew, Samuel, dan Nicole, diikuti peneguhan komitment setia untuk menjadi pemimpin bijaksana berdasarkan keteladanan guru agung Confusius.

Pukul 15.00 peserta bubar meninggalkan air terjun dan kembali harus menaklukkan jalan pulang. Namun lagi-lagi semangatlah yang menjadi penentu. Peserta satu demi satu dengan sisa-sisa nafas akhirnya berhasil melampaui ujian-ujian dan kembali ke markas di mana mobil TNI Angkatan Laut telah menunggu mereka.

Pukul 16.30 peserta akhirnya berangkat meninggalkan Situ Gunung menuju Tangerang. Mereka pulang membawa kelelahan, nyeri kaki dan badan, kepala pening, maag yang kambuh, demam, namun juga membawa harapan, impian, motivasi, pengetahuan dan kebijaksanaan yang lebih hebat lagi. Seperti sebuah kisah Tiongkok klasik: betapa susahnya mendaki puncak Gunung Ma Yuan; serba penuh duri dan batu; namun indah sekali pemandangan di puncaknya, hingga para dewa ingin tinggal di sana. Siapa pun yang menghendaki ke puncak harus merasakan luka-luka, sakit bahkan mungkin ancaman kematian karena terjalnya jalan. Tetapi bagi mereka yang bertahan akan mendapatkan ganjarannya dengan menikmati puncak Ma Yuan yang elok kesayangan para dewa.

Bila Lao Tzu mengatakan: ”Perjalanan seribu mil diawali dengan satu ayunan langkah”, maka Bamboo Leadership Training adalah langkah pertama kalian untuk menapaki perjalanan ke puncak Ma Yuan – yakni masa depanmu sebagai pemimpin-pemimpin masyarakat, perusahaan, lembaga pemerintah, atau apa saja di mana nirvana memanggilmu. Bersiaplah untuk proses yang mungkin menyakitkan namun menghasilkan buah lezat di akhir.




Selamat sukses bagi SMA Pa Hoa di awal tahun perjuangannya. (OED)